Saya menunaikan ibadah haji tahun ini untuk ibu saya dengan niat haji tamatuk. Namun karena waktu yang saya miliki hanya sedikit, maka saya niatkan dengan haji ifrad

Saya menunaikan ibadah haji tahun ini untuk ibu saya dengan niat haji tamatuk. Namun karena waktu yang saya miliki hanya sedikit, maka saya niatkan dengan haji ifrad

Fatwa Nomor:1420
Pertanyaan: Saya ingin menyampaikan beberapa poin. Pertama, saya menunaikan ibadah haji tahun ini untuk ibu saya dengan niat haji tamatuk.Namun karena waktu yang saya miliki hanya sedikit, maka saya niatkan dengan haji ifrad. Kedua, saat saya tiba di Makkah pada tanggal 8 Dzulhijjah, saya tidak bisa mabit (bermalam) di Mina. Ketiga, ketika kami pulang dari Arafah saya juga tidak bisa mabit di Mina.

( Nomor bagian 11; Halaman 161)

Keempat, saya melontar jamrah pada jam empat pagi, yaitu setelah pertengahan malam berdasarkan at-tauqit az-zawali (waktu meridian, yang menetapkan bahwa pertengahan malam atau pukul 00:00 sebagai awal hari) di malam Idul Adha. Saya berharap Anda dapat memberikan saran kepada saya terkait beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas.

Jawaban: Mengubah haji dari tamatuk ke ifrad tidak boleh. Namun karena Anda belum keluar dari ihram, maka haji yang Anda lakukan adalah haji kiran, dan ini memberi konsekuensi bagi Anda untuk menyembelih hewan kurban. Adapun mengenai ketidakhadiran Anda untuk bermalam di Mina pada hari Tarwiah (8 Dzulhijjah) karena tidak bisa melakukannya, maka itu tidak memberikan konsekuensi apa pun bagi Anda. Terkait dengan keterangan Anda yang tidak bisa bermalam setelah kembali dari Arafah, Anda perlu tahu bahwa mabit di Mina pada malam 11 dan 12 Dzulhijjah merupakan salah satu wajib haji.

Demikian pula malam tanggal 13 Dzulhijjah bagi yang tidak buru-buru (memilih untuk mengambil nafar tsani). Orang-orang yang tidak mabit di Mina–kecuali suqah (petugas penyedia air bagi jamaah haji), ru’ah (orang yang merawat jamaah haji), dan yang seperti itu–wajib membayar dam (denda karena melanggar salah satu ketentuan haji atau umrah) yaitu menyembelih kambing. Jika tidak mampu melakukannya, maka wajib berpuasa sepuluh hari.

Kambing tersebut disembelih di Tanah Haram dan dibagikan kepada orang-orang fakir. Itulah tindakan yang lebih berhati-hati. Adapun mengenai pelemparan jamrah yang Anda lakukan pada jam empat pagi mengikuti waktu meridian, maka kami berharap semoga itu tidak apa-apa. Namun jika Anda mengundurkan waktu lontaran hingga lewat terbit matahari pada hari Idul Adha, niscaya itu lebih sesuai dengan sunnah.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Anggota Wakil Ketua Komite Ketua
Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

 

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar