Riya’ adalah akhlak dan sifat yang tercela tidaklah lahir kecuali dari qolbu orang yang jahil akan keagungan dan kemuliaan Allah dan bahwasannya Allah adalah satu-satu Dzat yang berhaq untuk disembah, terlalaikan dari pahala yang sangat besar yang telah Allah siapkan untuk hamba-hambaNya yang ikhlas. Riya termasuk dari syirik kecil yang menghilangkan kesempurnaan tauhid yang wajib untuk ada, sehingga wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati darinya. Allah berfirman : QS Al-Kahfi 110

{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف: 110]

“Katakanlah : Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan yang satu, oleh karenanya barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaknya dia mengerjakan amalan yang shalih dan tidak berbuat kesyirikan dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah  dari Nabi beliau bersabda : Allah  berfirman :

“أنا أغنى شركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه” رواه مسلم

“Aku adalah Dzat yang tidak butuh kepada adanya sekutu, Oleh karenanya barang siapa yang mengerjakan amalan yang mana dia menyekutukan Aku dengan selainKu maka Aku tinggalkan amalan tersebut dan sekutunya”.