🌿 Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya (no. 2325) dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :
« كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلاَلِ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ ، عَدَّ ثَلاَثِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ صَامَ »
“Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berupaya serius menghitung (hari, sejak) hilâl bulan Sya’ban, tidak sebagaimana yang beliau lakukan pada bulan-bulan lainnya. Kemudian beliau bershaum berdasarkan ru’yah (Hilal) Ramadhan. Namun apabila (al-hilal) terhalangi atas beliau, maka beliau menghitung (Sya’ban menjadi) 30 hari, kemudian (esok harinya) barulah beliau bershaum.”
📚 Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad (VI/149), Ibnu Khuzaimah (1910), Ibnu Hibbân (3444) [1]), Al-Hakim (I/423) Al-Baihaqi (IV/406). Ad-Daraquthni (2149) menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan shahih. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2325.
🔏 Hadits ini menunjukkan :
▪Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupaya lebih serius menghitung hari-hari bulan Sya’ban sejak hari pertama terlihat al-hilal. Hal ini tidak sebagaimana yang beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain. Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk melakukan hal yang sama. Dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« أَحْصُوا هِلاَلَ شَعْبَانَ لِرَمَضَانَ وَلاَ تَخْلِطُوا بِرَمَضَانَ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ صِيَامًا كَانَ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ وَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَإِنَّهَا لَيْسَتْ تُغَمَّى عَلَيْكُمُ الْعِدَّةُ »
“Hitunglah bilangan bulan Sya’ban agar kalian mengetahui masuknya bulan Ramadhan. Janganlah kalian mendahului Ramadhan kecuali jika bertepatan dengan hari yang dia memang terbiasa bershaum padanya. Laksanakanlah shaum Ramadhan berdasarkan ruyatul Hilal dan beri’idulfitrilah kalian berdasarkan ruyatul Hilal.”

 📄 [HR. Ad-Daraquthni (2174). Al-Hakim I/425 dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 687) meriwayatkannya secara singkat. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahîhah no. 565] 
📚 Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan makna hadits tersebut :
 ✅ “Bersungguh-sunggulah kalian dalam menghitung dan mencermati (hari-hari bulan Sya’ban), yaitu dengan kalian memperhatikan waktu-waktu terbit (al-hilal) dan melihat peredarannya. Agar kalian benar-benar di atas ilmu dalam mencari hilâl bulan Ramadhan dengan sebenarnya, sehingga sedikit pun tidak ada yang terluput dari kalian.” [2])
▪Kebiasaan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam adalah bershaum Ramadhan berdasarkan RU’YATUL HILAL. Namun apabila al-hilal terhalangi, maka beliau menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

—————–

[1] Shahih Ibni Hibban bitartib Ibni Bilban, Mu`assasah Ar-Risalah – Beirut.
[2] Lihat Tuhfatul Ahwadzi syarh hadits no. 687.
🌍 http://manhajul-anbiya.net/bersungguh-sunggulah-kalian-dalam-menghitung-dan-mencermati-hari-hari-bulan-syaban/
•••••••••••••••••••••

🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya

📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya

💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~